mungkin saat itu adalah saat yang tepat untuk mengutarakannya, pikirannya sudah dipenuhi gejolak jiwa yang sudah membuat dirinya merasa bodoh slama ini. dan entah apalagi yang membuatnya tak tahan lagi.
"ky?"
"ada apa gerr?"
"aku mau bilang sesuatu ke kamu satu hal" denyut nadi kian cepat, ia pun merasa seakan-akan dirinya sedang ujian negara
"apa gerr?"
"aku tak tahu harus memulainya dari mana ky, tapi.. ingin tak ingin terpaksa harus aku katakan padamu". keringat dingin pun keluar tanpa harus disuruh majikannya. Gerry diam sejenak, entah apa yang membuatnya begini tapi ia harus mengambil nafas panjang untuk menentramkan hatinya
“gerr.. u’r okey?” suara uky memotong lamunannya
“aku baik ky,, aku.. cintai.. kamu..” dengan terbata-bata
Raut wajah uky berubah dratis, tanda tanya kini menyilimuti hatinya, apakah yang barusan yang dia dengar, sebuah ilusikah? Atau ia sedang bermimpi, dia mencoba menyakinkan. “ apa gerr?”
“aku mencintaimu”. Kali ini lebih mantap dari yang sebelumnya “ky, perasaan ini slalu berontak di batinku, aku nggak bisa memendamnya lebih lama lagi, bukannya takut jantung ini meledak, atau sakit hati tapi.. maaf aku harus mengatakannya. Ky,, maukah kamu menjadi seorang yang slalu ada buat aku?
“ gerr.. apakah aku sedang di dunia mimpi?”pelan uky bertanya
“nggak ky, aku yakin ini nyata, aku ngomong beneran” pangkasnya cepat. “ada yang salah ky?”
“atas dasar apa gerr?, bukankah....”
“rasa ini ky,” sahut gerry. Aku menyukaimu, aku ingin kau menjadi bagian dari keseharianku, ku ingin kau menjadi sesuatu yang lebih untukku ky, dan aku pun sudah rela jika hati ini harus jatuh padamu.
“bukankah ini terlalu cepat gerr?”
“enggak ky, sudah terlalu lama ku menantimu, sudah lama pula aku pengen jujur sama kamu...”gerry mengakhiri omongannya yang dia sendiri tak sadar dengan apa yang dia katakan. Kini ia hanya memilih diam, ia membeku didepan uky, mulutnya pun sudah tak mampu menjelaskan lebih banyak lagi. Ia hanya menunggu uky mengatakan ya atau tidak.
“maaf gerr.. aku nggak bisa”.
“tapi..?”
“bukan tapi-tapian, kamu belum tahu aku sepenuhnya, dan aku..”
“aku paham dirimu 100% ky..”
“belum, kamu belum tahu aku sampai segitu, jika kamu sudah paham akan diriku, pasti saat ini kamu nggak akan ngomong kayak gitu ke aku. Dan aku juga butuh waktu gerr”.
“waktu? Untuk apa?”
“aku punya beban gerr, cita-citaku yang tak bisa menerimamu, aku masih ingin belajar lebih lama lagi, ku tak ingin hari-hariku membuatnya hancur suatu saat nanti. Bukannya aku menyalahkanmu gerr, tapi.. “
“tapi apa?”
“aku hanya ingin yang terbaik, aku yang sekarang masih belum bisa membagi waktu untuk pacaran, aku masih terlalu polos gerr”
“bukankah klo kita pacaran nanti aku bisa membantu menyelesaikan semua masalahmu? Ky,, aku sudah rela untuk menjadi kekasihmu”
“aku tak ingin merepotkan orang lain gerr”.
“orang lain? Aku ingin jadi kekasihmu ky”.
“enggak gerr, aku nggak bisa, maaf untuk kali ini, mungkin suatu saat nanti aku mau menerima mu jika aku sudah tahu klo cinta bisa membantu menyelesaikan masalah kita. Aku yang sekarang belum sanggup menerima kenyataan itu, maaf gerr”.
Gerry pun diam. dia justru lebih bimbang dari sebelumnya. Apa yang dikatakan uky tadi bagai anak panah mencuat yang berhasil mengenai sasarannya, meski uky sendiri tak pernah bermaksud untuk melakukannya.
“alhamdulillah, makasih ky”.
“for what?”
“makasih udah mau menerima celotehanku, trima kasih sudah membantuku untuk bisa meluapkan isi hati ini”
“maaf ya gerr”
“kamu nggak salah ky, justru aku yang masih bodoh, aku juga masih banyak belajar sepertimu”.
“kamu nggak marah kan?”
“buat apa? Justru aku senang,” kau telah menyadarkanku ky, kau begitu justru karna mungkin kau peduli padaku, engkau juga nggak mau suatu saat nanti aku hancur kan? Terima kasih untuk semua
Keduanya berpisah, dan tak tahu lagi mereka akan berjumpa kembali
