Copyright © Diary Lamunan Sore
Design by Dzignine
Rabu, 14 Desember 2011

Pasangan Tua Itu

Bismillah ...

Hari ini, selepas sholat subuh, aku pergi ke pasar tradisional dengan khadimat setiaku. Kami berangkat pagi-pagi sekali karena dua alasan – lokasi parkir yang enak dan pilihan ikan segar yang lebih banyak. Jadi, di sanalah kami, di pagi buta, berjuang mencari jalan di antara ramainya para pedagang ikan, berusaha mendapatkan ikan terbaik. Satu jam kemudian kami sudah siap untuk memasukan “tangkapan hari ini” ke dalam mobil ketika aku melihat sesuatu yang menyentuh hatiku.

Seorang bapak tua bersama istrinya, keduanya berusia enam puluhan, sedang mendorong gerobak yang sarat di muati sayuran. Aku berjalan menghampiri mereka dan bertanya apakah sayuran itu di jual.

“Ya, nak,” si istri menjawab sambil tersenyum, dengan niat supaya pasangan ini dapat untung lebih cepat dan pulang lebih awal, aku memutuskan untuk membeli sekaligus banyak. Setelah memilih-milih sayuran yang akan ku beli, aku membayar dan mulai berbincang dengan mereka. Sesudah obrolan berjalan lima belas menit, aku tahu bahwa anak-anak mereka sudah dewasa semua, berpendidikan tinggi, dan juga sangat sukses. MASYAALLAH! Aku jadi penasaran.

Jika anak-anak mereka sukses, mengapa mereka harus berat di usia yang setua ini? Apakah mereka di telantarkan? Di mana anak-anak mereka? Apa anak-anak itu tidak melihat betapa kerasnya kehidupan orangtua mereka? Tidakkah mereka merasa bertanggung jawab?

Seolah bisa melihat rentetan pertanyaan dalam kepalaku, bapak tua itu berkata, “Begini, Nak, Bapak dan Istri Bapak ini menanam sayuran sendiri dan sudah berjualan di pasar ini sejak kami masih muda. Dengan cara itulah kami mampu mengirim anak-anak kami ke sekolah perguruan tinggi. Kami tidak kaya, tapi yang kami miliki, cukup untuk kami semua. Setiap suapan yang masuk ke mulut kami di peroleh dari usaha sayuran ini, Alhamdulillah. Jadi, sekarang, meskipun kami hidup berkecukupan dari uang yang di kirim dari anak-anak kami, kami merasa bahwa sepanjang kami masih bisa memperoleh penghasilan yang halal, selayaknyalah kami terus bekerja. Bekerja baik untuk kami, di sarankan oleh agama, dan, selain itu, kami juga butuh olahraga,” katanya sambil terkekeh.

Sewaktu kutanya berapa lama dia berencana terus bekerja, bapak itu berkata ceria, “Sampai Bapak berhenti nafas, Nak—sampai hari Allah mengambil kemampuan bapak bekerja. “

SUBHANALLAH…Aku tak sanggup berkata-kata, hanya kurasakan hangat disudut mataku. Sungguh luar biasa sikap pasangan ini. Mereka benar-benar membuatku TAKJUB. Inilah pertama kalinya dalam hidupku aku melihat orang-orang yang begitu bangga pada pekerjaan mereka dan menolak menerima pemberian, meski punya hak yang sah untuk menerima. SUBHANALLAH!

Sekarang aku betul-betul mengerti apa yang pernah di katakan Seorang bijak:Bekerja adalah cinta yang di wujudkan. Dan jika kau tidak bisa bekerja dengan cinta, tetapi hanya dengan keengganan, lebih baik kau tinggalkan pekerjaanmu dan duduk di gerbang kuil dan menerima derma dari orang-orang yang berkerja dengan gembira.

Dan aku bisa melihat cinta dan kegembiraan bekerja pada wajah pasangan tua ini. Bukan main, tampak jelas betapa mereka mencintai pekerjaan mereka. Mereka bangga masih bisa mencari nafkah walaupun pemberian anak-anak mereka mencukupi. Aku hanya bisa membayangkan keceriaan dan semangat yang tentu mereka rasakan dalam hati, setiap mereka terjaga di pagi hari—pergi ke kebun, mungkin menanam benih baru, atau memetik sayuran segar untuk di bawa ke pasar. Semua itu lakukan dengan cinta dan kebanggaan dalam hati mereka.

Jika bercermin pada pasangan ini, aku bertaruh banyak orang muda yang merasa malu. Orang-orang muda yang selalu mengeluh kalau harus pergi bekerja, yang ingin hidup enak tanpa harus bekerja keras. Orang-orang seperti inilah yang tidak pantas menerima pemberian dan merekalah jenis orang yang berharap dipandang dan dikasihani, itu baru antara lain.

Aku pernah melihat orang-orang, yang berusia jauh lebih muda daripada pasangan ini, yang begitu bencinya bekerja sampai-sampai mereka selalu berusaha mencari celah untuk di salahgunakan dalam kebijakan-kebijakan organisasi mereka. Hal-hal seperti surat dokter lancung dan alasan-alasan palsu selalu mereka gunakan untuk bolos bekerja. Bagi mereka, membodohi majikan adalah kemenangan. Kadang aku bertanya-tanya yang bodoh itu sebenarnya siapa. ASTAGFIRULLAH….

Ibnu Al-Jawzi pernah berkata : Tak pernah aku melihat aib yang lebih menyedihkan dalam masyarakat daripada mereka yang berhenti bekerja padahal mereka sanggup melanjutkan.

oleh  Asiyah Muthmainnah

DUNIA ANAK

Jika anak-anak hidup dengan kritikan,
mereka belajar untuk mengutuk.
Jika anak-anak hidup dengan permusuhan,
mereka belajar untuk melawan.
Jika anak-anak hidup dengan rasa takut,
mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan.
Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan,
mereka belajar untuk merasa menyesal sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan olokan,
mereka belajar untuk merasa malu.
Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan,
mereka belajar untuk merasa iri hati.
Jika anak-anak hidup dengan rasa malu,
mereka belajar untuk merasa bersalah.
Jika anak-anak hidup dengan semangat,
mereka belajar percaya diri.
Jika anak-anak hidup dengan toleransi,
mereka belajar kesabaran.
Jika anak-anak hidup dengan pujian,
mereka belajar apresiasi.
Jika anak-anak hidup dengan penerimaan,
mereka belajar untuk cinta.
Jika anak-anak hidup dengan persetujuan,
mereka belajar seperti itu sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan pengakuan,
mereka belajar bagus untuk memiliki tujuan.
Jika anak-anak hidup dengan berbagi,
mereka belajar kedermawanan.
Jika anak-anak hidup dengan kejujuran,
mereka belajar sebenarnya.
Jika anak-anak hidup dengan keadilan,
mereka belajar keadilan.
Jika anak-anak hidup dengan baik-baik,
mereka belajar menghargai.
Jika anak-anak hidup dengan keamanan,
mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
Jika anak-anak hidup dengan keramahan,
mereka belajar di dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup.

oleh Dorothy Law Nolte (1924 – 2005)
Kamis, 08 Desember 2011

SMILED TIPS

Hi everyone
. . .
it takes 26 muscles to smile?
And 62 muscles to frown!
So SMILE!!!
Think of it as FREE therapy!!!
This community is only 4 those ppl who love 2 smile.
U know what is Smile?~
"Smile is the shortest distance between 2 hearts."
"So count ur life by Smiles not by tears"
If u c sum1 widout a Smile, give her/him 1 of ur smile......
Do U have a SMILING FACE?
if u DO den this community is for U!!!

 
Keep smiling always ^_^

. . .

BORED

. . . .


Are You Bored of SURFING D NET, WATCHING T.V, EATING, SLEEPING & STUDYING ?? Try these things instead:
Act like you just met your friend for the first time
Announce your candidacy for President
Annoy total strangers
Ask a question nobody can answer
Bark at people in the grocery store
Be a monk…for a day
Burp the Happy Birthday song
Change your name…daily
Dare to be stupid
Exorcise a ghost
Go into a bar and ask for a Molotov Cocktail
Go to your local museum, and try to get kicked out
Hold your hand
Insist everyone calls you "Your highness"
Kiss your elbow, if you can
Practice your arm pit farting skills
(Advanced participants try with your hand cupped on the back of your knee)
Pretend you are God
Read a book a sentence a day
Scratch yourself - Go ahead, scratch yourself now.
. . . . 
Jumat, 04 November 2011

Renungan..

  • Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

    Baca Qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi. Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

    Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

    Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak? Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

    Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

    Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

    Astaghfirullaah …

DUNIA INI INDAH

Saat kedatangan tamu dari German. Walaupun berawal sangat angkuh karena mmg begitulah karakter ras Aria yang begitu meremehkan bangsa lainnya. Tetap saja aku biarkan walau dia memperhatikan kegiatanku..
Lucu memang...demi harga dirinya karena merasa paling mulia, dia rela berdiri memperhatikanku 3 jam selama 3 hari tanpa menyapa karena berharap akulah orang asia yang harus menyapa terlebih dahulu..hingga akhirnya dia menyapa lebih awal karena membutuhkan ”sesuatu” dariku...

Berlatarbelakang ilmu pesawat terbang yang sama,menjadikan kami semakin akrab, hingga aku mengajaknya kekampung halaman di garut...dengan tujuan ”mengikis keangkuhan ras Aria”.. (berita pengetesan thd DNA Hitler membuktikan bahwa ras Aria merupakan kaum Yahudi juga..)

Dimulai dengan hal kecil tapi membuat dia berfikir keras...

Kang Dwin :”Coba terangkan, bagaimana memasukan gula kedalam kue kelepon ini...?
Tamu :”...(befikir 10 menit)...seems by injection...”
Kang Dwin :”sebetulnya caranya seperti ini dan sederhana…”
Tamu :” ….”
Kang Dwin :”Bagaimana cara membuat kue seroja (kembang goyang-red) ini?”
Tamu :”(berfikir lebih lama..)……looks by forming process…”
Kang Dwin :”caranya hanya dicelup setengah permukaan cetakan dan dicelup keminyak goreng..dan jadilah..”
Tamu :” ….”


Hingga kami ajak ke sebuah pondok pesantren dan dia tampak seperti “wong ndeso” saat melihat sawah dan pohon kalapa karena dinegaranya tidak ada….”Hey Dwin…does it nasi tree?”
(Hey Dwin…apakah itu pohon nasi?”)…..
Dan saat menyaksikan pendekar silat mematahkan besi hanya dengan tangan, maka semakin ”melongo” lah wajahnya...

Kang Dwin :”Makanya hati-hati dgn negri kami...besi saja hancur hanya dengan tangan... jadi jangan berani2 jajah kami ya.. ”
Tamu :” .......”

Hingga suatu saat dia bertanya...dan selalu berdiskusi selama 3 hari mulai pkl 19.00-02.00 sambil berdiri...

Tamu :”Dwin...why do you believe to ALLAH?...”
Kang Dwin :”Karena ALLAH lah pencipta jagad raya dan kita...”
…lihat mobil di parkiran kita, semua ada karena ada designer yang membuatnya, setuju…?”
Tamu :” agree…!!!”
Kang Dwin :”…lihat diri kamu, saya dan kita semua….kita ada karena ada ”Dzat” yang menciptakan...”
Tamu :” .No agree…!!!”
Kang Dwin :”…jadi menurutmu setelah mati bagaimana?, tdk ada alam lain..?”
Tamu :” ..... setelah mati kita hanya jadi abu karena dikremasi…dan selesailah kehidupan...”


Walaupun penduduk yang terbiasa dengan teknologi/akal, tetap saja saat pendekatan agama melalui akal tidak dapat diterima mereka, karena menyakini ttg ALLAH adalah perkara HATI ....bukan AKAL....

Hingga saat kuberikan hadiah pesawat model buatan tanganku sendiri, begitu kagum karena katanya semua barang spt ini di German hanya dicetak dengan mesin bukan Handmade...

sebenarnya aku hanya ingin mengajarkan untuk tidak merasa lebih mulia dari orang lain....karena DUNIA INI INDAH bila kita hidup SALING MENGHARGAI....
Hingga dialah yang mengawali menawarkan untuk menjadi sahabat.
Kamis, 27 Oktober 2011

HUKUMAN

Sepasang suami istri yang bekerja meninggalkan anaknya yang berusia tiga tahun yang bernama ita, bersama sang pembantu di rumah. Namanya juga anak-anak, pasti suka mengeksplorasi diri, begitu juga dengan ita. Sambil bermain dia mencoret-coret tanah dihalamannya dengan lidi, sementara si pembantu menjemur kain di dekat garasi. Puas dengan mencorat-coret tanah, ia menemukan sebuah paku berkarat dan mulai mencoba untuk menggoreskannya pada mobil ayahnya yang berwarna hitam. Karena masih baru mobil tersebut jarang sekali digunakan untuk pergi ke kantor. Maka, penuhlah mobil tersebut akan coretan yang digambar oleh ita.

Begitu ayahnya pulang, dengan bangga ita memberi tahu tentang gambar-gambar yang sudah dibuat di mobil baru ayahnya itu. Bukannya pujian yang didapatkan ita, melainkan kemarahan yang sangat besar dari sang ayah. Pertama kali yang kena damprat adalah sang pembantu karena dianggap tidak mengawasi ita di rumah. Baru giliran anaknya yang dihukum. Demi mendisiplinkan anaknya, tidak cukup sang ayah dengan kata-kata kasar dan penuh tekanan, tetapi pukulan pun juga dikeluarkan oleh sang ayah. Dipukullah kedua telapak tangan sampai lengannya pun ikut mendapatkannya, dipukul dengan apa saja yang berada di dekat sang ayah. Mulai dari mistar, ranting, sampai rotan di sertai luapan emosi yang tak terkendali.

“ampun bah, sakit... sakit, ampun!” jerit tangis ita sambil menahan betapa sakitnya tangannya tang sudah mulai berdarah-darah. Sang ibu hanya diam saja, seolah-olah merestui tindakan disiplin yang ditegakkan sang ayah barusan.

Puas menghajar anaknya, sang ayah menyuruh pembantu untuk membawa ita ke kamarnya. Dengan hati teriris, sang pembantu membawa ita masuk ke kamarnya. Sore hari ketika dimandikan, ita menjerit-jerit menahan perihnya luka-luka itu terkena air. Esok harinya tangan ita mulai membengkak, si pembantu sangatlah panik. Sementara ayah ibunya tetap bekerja seperti biasa, sibuk dengan segala urusan kantornya. Ketika mendapatkan laporan dari pembantunya pun dengan enteng mereka menjawab “ dioleskan salep saja”.

Hari berganti hari, suhu badan ita kian meninggi, lukanya makin memar, sudah mulai terinfeksi. Dan lagi-lagi ayah ibunya dengan enteng menyuruh supaya dikasih obat penurun panas saja. Hingga suatu malam, panasnya semakin tinggi, bahkan ita sendiri mulai mengigau. Buru-buru mereka membawa ita yang sudah tampak melemah ke rumah sakit pada malam itu juga.

Hasil diagnosa dokter menyatakan bahwa demam ita disebabkan oleh tanganya yang sudah terinfeksi dan membusuk akibat luka-lukanya itu. Setelah diopname selama seminggu di rumah sakit, sang dokter memanggil ayah ibunya , dan menyatakan , “ tak ada pilihan lain...”

Dokter mengusulkan agar kedua tangannya untuk segera diamputasi, karena infeksi yang terjadi sudah sangat parah. “ ini sudah bernanah dan membusuk, untuk menyelamatkan nyawanya tangannya harus diamputasi”.

Mendengar pengaduan dari sang dokter, ayah dan ibunya bagai disambar petir. Dengan air mata berurai dan tangan yang bergetar,mereka menandatangani surat persetujuan amputasi untuk anak yang dikasihaninya itu.

Setelah sadar dari pembiusan operasinya, ita terbangun sambil menahan rasa sakit dan bingung melihat tanganya yang dibalut kain putih. Lebih kaget lagi, dia melihat kedua orangtuanya dan pembantunya menangis disampingnya. Sambil menahan rasa sakit, ita berkata kepada orang tuanya, “ Abah,.. Ibu, ita takkan melakukannya lagi... ita sayang Abah, sayang Ibu dan juga sayang Bibi. Ita minta ampun sudah mencorat-coret mobil abah!”, si Ibu dan Abahnya semakin menangis mendengar kata-kata ita tersebut.

“bah,, sekarang tolong kembalikan tangan ita, untuk apa diambil. Ita janji tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana kalau nanti ita mau main dengan teman-teman karena tangan ita sudah diambil. Abah... Ibu, tolong kembaliin, pinjam sebentar saja. Ita mau menyalami Abah dan Ibuk serta Bibi untuk minta maaf!”. (sekian)

++Half full, half empty++
Kamis, 29 September 2011

gagal bercinta

mungkin saat itu adalah saat yang tepat untuk mengutarakannya, pikirannya sudah dipenuhi gejolak jiwa yang sudah membuat dirinya merasa bodoh slama ini. dan entah apalagi yang membuatnya tak tahan lagi.
"ky?"
"ada apa gerr?"
"aku mau bilang sesuatu ke kamu satu hal" denyut nadi kian cepat, ia pun merasa seakan-akan dirinya sedang ujian negara
"apa gerr?"
"aku tak tahu harus memulainya dari mana ky, tapi.. ingin tak ingin terpaksa harus aku katakan padamu". keringat dingin pun keluar tanpa harus disuruh majikannya. Gerry diam sejenak, entah apa yang membuatnya begini tapi ia harus mengambil nafas panjang untuk menentramkan hatinya
“gerr.. u’r okey?” suara uky memotong lamunannya
“aku baik ky,, aku.. cintai.. kamu..” dengan terbata-bata
Raut wajah uky berubah dratis, tanda tanya kini menyilimuti hatinya, apakah yang barusan yang dia dengar, sebuah ilusikah? Atau ia sedang bermimpi, dia mencoba menyakinkan. “ apa gerr?”
“aku mencintaimu”. Kali ini lebih mantap dari yang sebelumnya “ky, perasaan ini slalu berontak di batinku, aku nggak bisa memendamnya lebih lama lagi, bukannya takut jantung ini meledak, atau sakit hati tapi.. maaf aku harus mengatakannya. Ky,, maukah kamu menjadi seorang yang slalu ada buat aku?
“ gerr.. apakah aku sedang di dunia mimpi?”pelan uky bertanya
“nggak ky, aku yakin ini nyata, aku ngomong  beneran” pangkasnya cepat. “ada yang salah ky?”
“atas dasar apa gerr?, bukankah....”
“rasa ini ky,” sahut gerry. Aku menyukaimu, aku ingin kau menjadi bagian dari keseharianku, ku ingin kau menjadi sesuatu yang lebih untukku ky, dan aku pun sudah rela jika hati ini harus jatuh padamu.
“bukankah ini terlalu cepat gerr?”
“enggak ky, sudah terlalu lama ku menantimu, sudah lama pula aku pengen jujur sama kamu...”gerry mengakhiri omongannya yang dia sendiri tak sadar dengan apa yang dia katakan. Kini ia hanya memilih diam, ia membeku didepan uky, mulutnya pun sudah tak mampu menjelaskan lebih banyak lagi. Ia hanya menunggu uky mengatakan ya atau tidak.
“maaf gerr.. aku nggak bisa”.
“tapi..?”
“bukan tapi-tapian, kamu belum tahu aku sepenuhnya, dan aku..”
“aku paham dirimu 100% ky..”
“belum, kamu belum tahu aku sampai segitu, jika kamu sudah paham akan diriku, pasti saat ini kamu nggak akan ngomong kayak gitu ke aku. Dan aku juga butuh waktu gerr”.
“waktu? Untuk apa?”
“aku punya beban gerr, cita-citaku yang tak bisa menerimamu, aku masih ingin belajar lebih lama lagi, ku tak ingin hari-hariku membuatnya hancur suatu saat nanti. Bukannya aku menyalahkanmu gerr, tapi.. “
“tapi apa?”
“aku hanya ingin yang terbaik, aku yang sekarang masih belum bisa membagi waktu untuk pacaran, aku masih terlalu polos gerr”
“bukankah klo kita pacaran nanti aku bisa membantu menyelesaikan semua masalahmu? Ky,, aku sudah rela untuk menjadi kekasihmu”
“aku tak ingin merepotkan orang lain gerr”.
“orang lain? Aku ingin jadi kekasihmu ky”.
“enggak gerr, aku nggak bisa, maaf untuk kali ini, mungkin suatu saat nanti aku mau menerima mu jika aku sudah tahu klo cinta bisa membantu menyelesaikan masalah kita. Aku yang sekarang belum sanggup menerima kenyataan itu, maaf gerr”.
Gerry pun diam. dia justru lebih bimbang dari sebelumnya. Apa yang dikatakan uky tadi bagai anak panah mencuat yang berhasil mengenai sasarannya, meski uky sendiri tak pernah bermaksud untuk melakukannya.
“alhamdulillah, makasih ky”.
“for what?”
“makasih udah mau menerima celotehanku, trima kasih sudah membantuku untuk bisa meluapkan isi hati ini”
“maaf ya gerr”
“kamu nggak salah ky, justru aku yang masih bodoh, aku juga masih banyak belajar sepertimu”.
“kamu nggak marah kan?”
“buat apa? Justru aku senang,” kau telah menyadarkanku ky, kau begitu justru karna mungkin kau peduli padaku, engkau juga nggak mau suatu saat nanti aku hancur kan? Terima kasih untuk semua
Keduanya berpisah, dan tak tahu lagi mereka akan berjumpa kembali