Copyright © Diary Lamunan Sore
Design by Dzignine
Sabtu, 18 Juni 2016

Kudu Bakoh - Tetap Bertahan meski dalam masalah

Tulisan ini aku ambil dari salah satu majalah, hanya untuk sekedar pengingat diri sendiri khususnya. syukur-syukur bisa bermanfaat buat para pembaca yang budiman :-D

Pertahanan dalam menghadapi tekanan dan permasalahan membuat seseorang tetap tenang. Ketenangan ini berasal dari sikap positif dari orang tersebut dalam mengatasi stres yang berasal dari pikiran dan perasaannya sendiri.

Penelitian menyatakan bahwa memang ada orang yang secara natural memperoleh kemampuan untuk bertahan dalam tekanan. Ia tetap tegar dan kuat dalam menghadapi berbagai tekanan. Namun jangan khawatir, karena tindakan ini juga bisa dipelajari. Berikut teknik yang dapat kita lakukan, agar tetap kuat dan tidak semakin lemah saat permasalahan menekan.

1. Temukan arti dan tujuan hidup kita

Setelah kehilangan anaknya yang berusia 13 tahun akibat ditabrak oleh seorang pemuda yang mabuk, seorang ibu akhirnya memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk menyadarkan banyak orang mengenai bahayanya menyetir dalam keadaan mabuk.

Itulah caranya untuk menghadapi persoalan. Ketimbang meratapi nasib akan kematian anaknya itu, ia memutuskan menghadapi tragedi itu dengan menemukan tujuan hidup yang lebih berarti. Nyatanya, hal tersebut membuatnya lebih mudah untuk pulih. Ia juga merasa lebih kuat dan berarti.

2. Bangunlah kepercayaan diri akan kemampuan kita sendiri

Konsep diri alias bagaimana caranya kita menghargai diri kita sendiri memainkan peran yang sangat penting untuk mengatasi stres. Konsep diri yang baik akan menolong kita untuk memulihkan diri ketika dilanda kesulitan. Ingatkanlah diri kita sendiri, bahwa kita bukanlah orang yang lemah, tapi orang yang kuat. Percayalah akan kemampuan kita bahwa kita bisa menghadapi krisis.

3. Bangunlah jaringan sosial yang kuat

Memiliki orang-orang yang peduli dan mendukung di sekitar kita sangatlah penting dalam menghadapi krisis. Jalinlah hubungan yang baik dengan orang yang dengannya kita merasa lebih kuat. Carilah mereka yang bisa mendengarkan dan mengerti kondisi kita. Ia akan mendukung, memberikan saran positif, bahkan solusi dalam persoalan kita.

4. Bersiaplah untuk perubahan

Salah satu hal yang paling esensi dalam pertahanan diri dalam menghadapi masa sulit adalah kerelaan untuk menerima perubahan. Ketimbang menolak keadaan, lebih baik belajar untuk beradaptasi dan menerima keadaan. Orang yang tegar menjadikan kondisi yang sulit sebagai cara untuk melangkah ke perubahan yang lebih baik.

5. Optimislah!

Tetap optimis dalam masa-masa krisis dan kritis bisa jadi hal yang sangat sulit dilakukan. Tetapi membangun harapan sangatlah penting untuk menjadi pribadi yang tetap teguh dalam menghadapi kesulitan. Berpikir positif bukan berarti menolak datangnya masalah. Namun kita belajar untuk mengerti bahwa permasalahan dan persoalan adalah sebuah tantangan untuk membuat kita bisa semakin dewasa.

6. Tetap perhatikan diri kita

Ketika menghadapi permasalahan yang menekan, bisa jadi membuat kita tidak lagi perhatian pada diri sendiri. Kehilangan selera makan, tidak menjaga kesehatan, tidur tidak teratur, dan reaksi merugikan lainnya.
Untuk menjadi orang yang bertahan dalam tekanan, fokuslah dalam membangun ‘perhatian’ pada diri kita sendiri dalam segala keadaan. Dengan merawat diri sendiri, semangat kita bisa terbangun untuk tidak kalah terhadap keadaan yang sulit.

7. Kembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah

Penelitian menyatakan bahwa orang yang mampu untuk memberi solusi terhadap sebuah permasalahan lebih baik dalam menghadapi keadaan sulit ketimbang yang tidak. Karena itu, setiap kali ada kesempatan, ajarilah diri Anda untuk menemukan solusi semampu kita. Dengan sering berlatih dengan terlibat dalam penyelesaian masalah yang sederhana, kita akan terbiasa dan siap untuk menghadapi kondisi seberat apapun kelak.

8. Tetapkan tujuan

Situasi krisis memang menakutkan, bahkan terlihat sulit untuk diatasi. Namun orang yang kuat bisa melihat situasi ini dengan lebih realistis dan mulai membuat langkah dan tujuan untuk menyelesaikannya. Ketika kita menemukan diri kita kewalahan terhadap suatu masalah, ambillah langkah yang membuat kita bisa merasa lebih tenang.
Salah satunya adalah dengan mengumpulkan dan memikirkan solusi-solusi yang mungkin, kemudian atur langkah penyelesaiannya dengan lebih teratur.

9. Ambil langkah, jangan hanya dipikirkan saja

Kadang kita berpikir bahwa membiarkan masalah akan menyelesaikan masa kritis itu. Hal itu justru membuat permasalahan semakin menumpuk. Segeralah ambil langkah untuk menghadapinya. Tidak harus langkah yang besar, langkah kecil dan sederhana juga sudah sangat baik. Saat kita terlalu lama berfikir akan masalah yang dihadapi maka semakin membuat diri kita akan terpuruk lebih jauh. segera move-on, segala bentuk pikiran-pikiran jahat akan hilang dengan sendirinya saat kita menemukan hal yang positif. Dengan melangkah mengambil solusi, kita akan fokus pada progres penyelesaian masalah ketimbang menyesali keadaan. Hal ini akan membuat kita semakin teguh dalam menghadapi masa sulit.

10. Tetap konsisten

Memang, untuk menjadi pribadi dengan jiwa yang tegar dan teguh membutuhkan waktu. Jadi jangan menyerah sekalipun kita masih merasa sulit dalam menghadapi masalah. Semua orang memiliki prosesnya masing-masing untuk menjadi dewasa dalam berbagai permasalahan yang mendera. bisa dikatakan jagalah yang namanya Istiqomah, seperti pepatah sedikit-dikit lama-lama menjadi bukit. percayalah!!!

Sekian Tulisan ini, aku kutip dari psychologytoday.com semoga bermanfaat. Keep Writing. 
Rabu, 15 Juni 2016

Lebih baik dinikmati

Kehidupan?
Dari mulai dalam kandungan berumur 40 hari sampai ajal berpisah dari kerongkongan manusia. Itulah yang dinamakan manusia hidup.
Manusia hidup sangatlah bermacam-macam. Ada yang laki-laki, ada yang perempuan, ada yang tua, ada yang muda, ada yang kaya dan ada yang hidupnya cukup. Allah sang maha pemberi tak mau jika dikatakan memiliki ciptaan yang miskin. Sehina-hinanya seseorang di mata manusia yang jika dilihat dari duniawi saja Allah tak pernah menganggap ciptaannya menjadi miskin. Allah pasti mencukupi segala kebutuhannya.
Tinggal bagaimana kita bersikap diri kepada Allah, bersikap untuk slalu bersyukur atas apa saja yang sudah diberikan Allah selama kita hidup. Atas rejeki, kesehatan, ilmu, pendidikan, dan lain-lain. Yang terpenting kita harus bersyukur karena Allah menciptakan kita. Tidak mudah, dari sekian ciptaan Allah yang diberikan nyawa, Allah sudah memilih kita untuk menjadi seorang yang dipercaya untuk menjadi kholifah di atas muka bumi ini. Masih tidak mau bersyukur? Allah masih mau memberi kesempatan sampai ajal menjemput. Maha Suci Allah atas segala belas kasihan-Nya.
Sebagai wujud rasa bersyukur Allah memberikan ritual yang bisa membuat seorang hamba untuk bisa ingat kepada-Nya. Tak lain dan tak bukan dengan cara beribadah. Ibadah bukan semata-mata beban yang harus dipikul oleh ummat pemeluk agama. Tapi merupakan jalan yang dibuat oleh Sang Kholik untuk hamba-hambaNya sebagai sarana untuk bersyukur kepada Allah. Tak banyak yang menyadari.
Harusnya saat kita beribadah kita bisa menikmatinya. Bukan hanya menggugurkannya. Klo cuma mengugurkannya berarti kita tak dapat apa-apa. Boleh diibaratkan orang bayar pajak kepada negara. Setiap tahun warga negara wajib membayar pajak untuk negara. Demi keberlangsungan perekonomian dan kestabilan sebuah negara. Pajak digunakan untuk membangun infrastruktur sarana dan prasarana apa saja. Entah itu jalan, subsidi bagi yang membutuhkan dan masih banyak hal lagi, semisal kita cuma membayar saja tanpa pernah memanfaatkan atau menikmatinya kan yang merasa dirugikan kita sendiri. Toh pajak dari, oleh, dan untuk warga masyarakat.
Ibadah tak jauh beda, hanya sedikit yang perlu diluruskan, bukannya Allah meminta kita untuk beribadah kepadaNya. Justru jika kita ingin bisa menikmati apa yang ada dalam kehidupan selama ini, Allah menyediakan fasilitas yang berupa ibadah. Semakin banyak atau semakin seorang hamba nikmat dalam menjalankan ibadahnya, maka semakin nikmat pula dia dalam menjalani kehidupannya.

*nb: untuk kalimat terakhir aku kesulitan menganalogikan perumpamaannya. Makanya rada kurang nyambung. Tapi semoga ada yang berbaik hati mengingatkan, apalagi mau memberi analogi yang lebih pas.
Referensi yang dibaca kurang banyak. Bila banyak kesalahan mohon dimaafkan.