Copyright © Diary Lamunan Sore
Design by Dzignine
Rabu, 20 Januari 2016

Will you marry me?

adalah andre, anak kelahiran sebuah desa yang terletak di daerah ngarai, sejak kecil dia memimpikan punya sebuah rumah yang terbuat dari kayu sepenuhnya, dan pengennya lagi rumahnya berada di dekat danau atau di daerah lereng pegunungan yang mempunyai udara sejuk. sejak kecil dia suka bermain dengan gergaji ataupun parang untuk memotong-motong kayu dan sebagainya. dia sering membuat mainan dari kayu. pernah suatu hari dia membuat sangkar burung dara yang ia tempatkan diatas pohon mangga samping rumahnya. berawal dari situlah dia pengen rumah yang seperti sangkar burung, tempatnya diatas, langsung berhadapan dengan udara luas. bisa melihat lingkungan disekitarnya. mikirnya sih rumahnya keren. keren banget.
...
lagi buat apa mas? tanya seorang berbaju hijau yang tak sengaja mengagetkan andre. utung andre bukan orang yang kagetan, salah sedikit saja mungkin gergaji meleset ke tangannya. "mau bikin sangkar burung ya?". "bukan yank, koq kamu kesini? bukan e tadi pergi ke rumah ibuk ya?" sela andre, sambil ngalihin pembicaraan. dia nggak mau karya yang baru dibuatnya diketahui orang yang menyapanya tadi. "gitu deh, klo ditanya suka ngalihin pertanyaan. ayo jawab jujur, lagi bikin apa? awas ya klo bikin yang macam2! nanti aku cubit lagi!". nada mengancam, orang berbaju hijau tadi beranjak pergi meninggalkan andre yang kembali sibuk dengan karyanya itu. dan dalam sekejap bayangnya pun hilang dari pengelihatan andre. "alhamdulillah, gak ketahuan, hhe, klo ketahuan nanti gak jadi surprise". gumannya sambil meneruskan menggergaji kayu jati setebal 2inchi. peluh andre sudah penuh dengan keringat bercucuran. kerjaan itu harus ia selesaikan hari itu juga. dia bukan orang yang punya banyak waktu luang untuk bisa ia nikmati. sehari-hari dia bekerja di sebuah sekolahan. salah satu sekolah yang ternama di kotanya. kebetulan hari ini hari minggu, jadi dia bisa meluangkan waktu sejenak. setiap hari berkutat dengan komputer pribadinya. sebenarnya bukan komputer pribadi, melainkan komputer milik sekolah, cuma karena komputernya yang mengoperasikan cuma dia dan hanya boleh dia satu-satunya, maka seakan-akan dia yang memiliki komputer itu. komputer yang dulu dia beli dari teman se kost. hlo? buat instansi sekolah koq beli komputernya di tempat temen sendiri? ato malah komputer second? yap, betul sekali. komputer itu memang second. cuma dulu sama temannya jarang dipake, daripada beli di toko komputer harganya mahal. dia lebih suka beli yang murah, tanpa mengesampingkan kwalitas tentunya.
komputer itu digunakannya untuk mengaudit laporan bulanan tentang kinerja guru-guru  sekolah tempat dia bekerja.
...
"ayah, turun yah, turun!" teriak anak bungsu si andre kepadanya, anaknya iri kepada bapaknya yang baru duduk menatap awan putih bersama istri tercinta berbaju hijau itu. berdua duduk di atas rumah pohon. hanya lantai kayu ditopang tiang penyangga dari kayu jati yang ujung-ujungnya diikat erat di pohon trembesi. pohon yang rindang menjadi atap rumah kayu tersebut. sengaja andre tak membuat atap rumah nan mungil itu dari kayu biar dia bisa melihat sekeliling dengan jelas. "iya, ayah akan turun. bentar ya, ibuk mu gak mau diajak turun nih, hehe" tawanya geli. "uhhhhh ibuk jahat, klo lagi sama bapak gitu, adek dicuekin, awas klo ayah nggak ada di rumah adek tinggal maen sama temen-temen biar ibuk kesepian. wekk" ledek si bungsu. dia beringsut masuk ke dalam rumah. nampak kesal setelah dicuekin oleh kedua ortunya. "mas, turun yuk, tuh adek ngambek lagi. tau sendiri klo ngambek susah diajak kompromi" pinta sang istri. "kayak kamu donk yank, haha!" ledek andre kepada istrinya. sang istri mencubit lengan andre. "aduuuuhhhh, iya deh iya. ayok turun".
andre turun menapaki anak tangga rumah pohon yg terbuat dari batang pohon mahoni. batang yg seukuran lengan orang dewasa ia potong, dan disusun membentuk anak tangga. "mas pegangin!". andre meraih tangan istrinya saat menginjak anak tangga paling bawah. keduanya menyusul si bungsu ke dalam rumah.
...
"Doooor, happy besdey ibukku tersayang, semoga sehat selalu. gak nakalin adek terus. amin". adalah si bintang, yang kaget setelah membuka pintu belakang setelah menapaki anak tangga. saking kagetnya ia hampir saja menjebleskan daun pintu. "adekkk. bikin kaget saja. untung ibuk nggak jantungan". "yah ibuk juga sih, liat anak sendiri kayak ngeliat apaan aja. untung adek gak kejebles daun pintu. huuu". segera bintang mendekap si bungsu erat-erat. tak terbayangkan perasaannya saat itu. dia berlinang air mata, sambil memejamkan mata. "terima kasih, ibuk minta maaf suka nyuekin adek, suka bentak-bentak adek klo telat makan, kadang sering marah-marah saat adek gak ngerjain PR". "ibuk jelek,ckck" anaknya terkeuh-keuh. "biarin!" dekapannya semakin erat. "ehmmm, sudah laper nih" sela andre. "ya makan sana to mas, bawel". "bukkkk, lepasin donk, sakit tauk. mana ayah udah pengen makan kue yang dari tadi di tangan ku"!. "hahaha" andre terbahak. bintang langsung menengok ke samping, astaga. baru sadar dia. kue nya hampir hancur. untung si bungsu pintar menjauhkan kuenya supaya tidak remuk saat dia dipeluk ibuknya. bintang mencium kening si bungsu. "hueekkkkkk" si bungsu mengelak. bintang pun tersenyum.
...
"adek, kado buat ibuk mana? tanya bintang kepada si bungsu. "apa ibuk? kado? uang jajannya tambahin dulu donk. nanti adek beliin kado, buat ibuk. dilipatin jadi 2 yak? ledek si bungsu. bintang tambah kesal. seharian sudah dikerjain si bungsu, udah dikagetin, udah menjadikan hari itu moment terindah di hidupnya. "adeekk, ibuk mau nanya, tadi koq adek gak jadi naik ke rumah pohon? kirain mau lihat sunset dari atas. koq gak jadi?". "siapa buk? adek kan nggak bilang mau naik keatas, tadi cuma minta ayah sama ibuk turun saja. hahaha" anaknya terkeuh-keuh. bintang melotot. "trus? siapa yang nyuruh?. "ayah kemarin buk, saat ibuk maen ke rumah nenek. hehe. bintang beringsut ke suaminya. cubitan keras melayang lagi. "adooooooooh" andre tertawa.