maaf tulisan ini bukan meniru judul novel sang pemimpi, hanya saja aku juga ingin jadi sang pemimpi seperti yang kayak di novel itu. haha
...
cploookk, cploookk,, suara sepatu diatas tanah yang lembab, bukan hanya lembab tapi bener-bener becek. hujan seharian telah mengguyur seisi desa tempatku tinggal. desaku yang kecil, jalanan masih belum diaspal, masih berupa tatanan batu kali yang licin. kalau sudah hujan, jangankan sepeda motor, manusia yang bisa lari cepat saja pasti akan kewalahan melintas di jalan desaku. biarlah. memang desaku terpencil, jauh dari kerumunan. hanya ada beberapa keluarga. desa yang masih asri belum terjamah apa-apa saat itu. tak banyak yang punya televisi. mungkin baru 2 keluarga. satu milik pak RT, satunya kepunyaan mbah karso. mbah karso ini punya warung tempat biasa simbah sama anaknya. maksudnya bapak saya, nongkrong tiap pagi sebelum berangkat ke kantor. ciyeee kantor. iya kantoran bapak ku di sawah. maklumlah namanya juga petani. kantorannya pasti di sawah.
cplokkk.. cploookkk.. suara sepatu ku terhenti. akhirnya aku tiba di rumah. lega telah melewati halang rintang kayak benteng takesi, jalanan becek, jauhnya dari sekolah yang lain desa hingga depan rumah. becek semua. sebel? jangan ditanya. itulah kenapa saya punya sepatu dua. klo musim hujan, satunya pasti basah, satunya dipakai. selalu setiap hari. bisa bayangkan betapa senang, ya sebel yang sudah menggenang -_-"
...
saat itu usia ku baru tujuh tahun, duduk di bangku SD kelas 2. sekolahannya lumayan jauh dari rumah. setiap hari jalan-jalan klo berangkat sekolah. belum dibelikan sepeda sama bapak, belum jadi anak SD beneran, kayak yang di lagu: kring kring kring, sepedaku roda dua kudapat dari ayah karena rajin bekerja". lagu itu penuh kepalsuan, aku tiap hari mati-matian menggembala kambing tiap pulang sekolah, memberi makan ayam tiap pagi, mengurungnya tiap sore, tapi hingga kelas dua SD aku belum punya sepeda. makanya aku tiap pagi jalan-jalan klo ke sekolah. iya jalan beneran. bukan jalan-jalan buat refresing, tapi karena terpaksa, keadaan lah yang membuatku begini. hahaha.. biasa aja keles. temen lu juga jalan kaki klo berangkat sekolah, gak usah heboh gitu. hihihi
...
lupakan soal sepeda dan jalan-jalan. ada hal yang ingin aku tulis disini. secuil kisah waktu aku kelas 2 SD. waktu dimana aku masih imut. dulu kulitku putih. ganteng. banyak tante-tante suka mencium ku. hahaha.. eh koq tante-tante? emang di desa ada panggilan tante? nggak ada sih. biar keliatan gaul aja.
...
rumput hijau tumbuh diseluruh penjuru lapangan, terletak di tengah-tengah desa. bagai taman kota menghias permainya desa kami. ada pohon asam di pojok lapangan, tempat kami, anak-anak kecil pada berkumpul setiap sore. pohonnya rindang, selalu berbuah setiap tahun. tak pernah mengenal kata hari libur. jadi, klo setiap hari pengen maem buah asam, tinggal panjat aja keatas. ato klo nggak tinggal di lempar pakai sandal. haha
...
"kapoooookkk. kamu lagi yang jaga. kita berempat yang sembunyi!" celoteh rina. anak kelas 3 SD yg paling gedhe diantara kami. "sialllllll, kenapa slalu aku yg kalah hompimpa?" gerutu maman sebal. sejak dimulai permainan petak umpet habis pulang sekolah. sudah 6 kali putaran dari 9 kali permainan dia terus yang jaga. memang apes dia. aku sebagai teman sebenarnya nggak tega. cuma kalah ya kalah. harus jaga sampai dia menang. :-D
...
huuusss jangan berisik nanti ketahuan" bisik ku kepada evi. dia paling nggak bisa klo disuruh anteng saat sembunyi di kolong meja. takut ada tikus lah, ada ularlah ada jin, setan dan sebagainya.
"6... 7... 8... 9... 10... yak saatnya mencari" teriak maman dari bawah pohon asem. ceritanya pangkalan petak umpetnya di pohon asemnya itu. yang lain sembunyi di rumah-rumah sekitar lapangan, lapangannya nggak ada apa-apa. kurang bagus klo buat sembunyi. adalah rumahnya andi, evi, erma dan yang terakhir rumahku yang terletak di barat lapangan. sudah seperempat jam kami sembunyi baru rina sendiri yang sudah ketangkap sama maman. tinggal aku, evi, dan erma. si andi nggak ikutan, cuma rumahnya yang kami gunakan untuk bersembunyi. ibuk dan bapaknya andi sudah tahu kebiasaan kami. jadi mereka nggak berfikir aneh-aneh klo kami menyusup kayak tentara di pinggiran rumahnya. ya kadang kaget juga pas waktu dipanggil sama beliau. bikin ketahuan ngumpetnya di rumah andi. makanya aku jarang ngumpet di rumahnya klo andi nggak ikutan main petak umpet.
...
pukul 15:00 suara adzan bentar lagi berkumandang, baru rina, erma yang baru ditemukan oleh maman. rina ditemukan pas waktu ngumpet di rumah e andi, erma ketahuan ngumpet di rumahnya saat nonton tv. evi masih sembunyi di rumahnya sendiri, awalnya aku sama dia bersembunyi di rumahku. tadi sempat aku usir gara-gara rame terus, bikin nggak jenak sembunyinya.
...
"ruslan, sudah mau ashar hlo. sudah sore cepetan mandi, ibuk mau pergi njemput bapak mu di sawah". sejak ngumpet yang terakhir aku sembunyi di dalem rumah ku sendiri. cuma tiduran diatas kasur.
...
"ruslan mana nih vi, katanya tadi ngumpet sama kamu? koq nggak muncul-muncul? sudah setengah jam nungguin nih" cerocos maman. "gak tahu man, tadi sih iya sama aku. cuma dia pergi entah kemana" jawab evi. evi diketahui maman sembunyi waktu makan jajan di rumahnya erma. ibuknya erma punya toko kelontong yang komplit, semuanya ada disana. maman sudah mulai frustasi, belum juga nemukan aku dimana-mana. waktu dia nyari ke rumahku ibuk ku sudah berangkat ke sawah njemput bapak ku. pintu rumah juga tertutup. jadi maman nggak berani masuk ke dalam rumah.
...
brumm brummm suara sepeda motor ibuk sudah datang. bapak dan ibuk baru aja pulang dari sawah. melihat aku yang tidur di kasur ibuk langsung marah-marah. "ruslaaaaannn, banguuuunn. udah mandi belum tadi? sudah jam 5. bangun sana!". jam berapa? jam 5? aku langsung terbangun dari kasur. eh maman apa kabar? sudah dua jam lebih aku ketiduran di kamar. aku bergegas mandi. selesai mandi menyempatkan menengok lapangan sejenak.
...
lapangan kosong, tak ada seorangpun disana. teman-temanku sudah pulang. sedih rasanya. cuma aku juga menahan tawa. aku nggak tahu apa yang sudah terjadi selama 2 jam terakhir. :-D
Minggu, 21 Februari 2016
Aku sang Pemimpi
Author:
Ruslan

0 komentar:
Posting Komentar