Copyright © Diary Lamunan Sore
Design by Dzignine
Kamis, 27 Oktober 2011

HUKUMAN

Sepasang suami istri yang bekerja meninggalkan anaknya yang berusia tiga tahun yang bernama ita, bersama sang pembantu di rumah. Namanya juga anak-anak, pasti suka mengeksplorasi diri, begitu juga dengan ita. Sambil bermain dia mencoret-coret tanah dihalamannya dengan lidi, sementara si pembantu menjemur kain di dekat garasi. Puas dengan mencorat-coret tanah, ia menemukan sebuah paku berkarat dan mulai mencoba untuk menggoreskannya pada mobil ayahnya yang berwarna hitam. Karena masih baru mobil tersebut jarang sekali digunakan untuk pergi ke kantor. Maka, penuhlah mobil tersebut akan coretan yang digambar oleh ita.

Begitu ayahnya pulang, dengan bangga ita memberi tahu tentang gambar-gambar yang sudah dibuat di mobil baru ayahnya itu. Bukannya pujian yang didapatkan ita, melainkan kemarahan yang sangat besar dari sang ayah. Pertama kali yang kena damprat adalah sang pembantu karena dianggap tidak mengawasi ita di rumah. Baru giliran anaknya yang dihukum. Demi mendisiplinkan anaknya, tidak cukup sang ayah dengan kata-kata kasar dan penuh tekanan, tetapi pukulan pun juga dikeluarkan oleh sang ayah. Dipukullah kedua telapak tangan sampai lengannya pun ikut mendapatkannya, dipukul dengan apa saja yang berada di dekat sang ayah. Mulai dari mistar, ranting, sampai rotan di sertai luapan emosi yang tak terkendali.

“ampun bah, sakit... sakit, ampun!” jerit tangis ita sambil menahan betapa sakitnya tangannya tang sudah mulai berdarah-darah. Sang ibu hanya diam saja, seolah-olah merestui tindakan disiplin yang ditegakkan sang ayah barusan.

Puas menghajar anaknya, sang ayah menyuruh pembantu untuk membawa ita ke kamarnya. Dengan hati teriris, sang pembantu membawa ita masuk ke kamarnya. Sore hari ketika dimandikan, ita menjerit-jerit menahan perihnya luka-luka itu terkena air. Esok harinya tangan ita mulai membengkak, si pembantu sangatlah panik. Sementara ayah ibunya tetap bekerja seperti biasa, sibuk dengan segala urusan kantornya. Ketika mendapatkan laporan dari pembantunya pun dengan enteng mereka menjawab “ dioleskan salep saja”.

Hari berganti hari, suhu badan ita kian meninggi, lukanya makin memar, sudah mulai terinfeksi. Dan lagi-lagi ayah ibunya dengan enteng menyuruh supaya dikasih obat penurun panas saja. Hingga suatu malam, panasnya semakin tinggi, bahkan ita sendiri mulai mengigau. Buru-buru mereka membawa ita yang sudah tampak melemah ke rumah sakit pada malam itu juga.

Hasil diagnosa dokter menyatakan bahwa demam ita disebabkan oleh tanganya yang sudah terinfeksi dan membusuk akibat luka-lukanya itu. Setelah diopname selama seminggu di rumah sakit, sang dokter memanggil ayah ibunya , dan menyatakan , “ tak ada pilihan lain...”

Dokter mengusulkan agar kedua tangannya untuk segera diamputasi, karena infeksi yang terjadi sudah sangat parah. “ ini sudah bernanah dan membusuk, untuk menyelamatkan nyawanya tangannya harus diamputasi”.

Mendengar pengaduan dari sang dokter, ayah dan ibunya bagai disambar petir. Dengan air mata berurai dan tangan yang bergetar,mereka menandatangani surat persetujuan amputasi untuk anak yang dikasihaninya itu.

Setelah sadar dari pembiusan operasinya, ita terbangun sambil menahan rasa sakit dan bingung melihat tanganya yang dibalut kain putih. Lebih kaget lagi, dia melihat kedua orangtuanya dan pembantunya menangis disampingnya. Sambil menahan rasa sakit, ita berkata kepada orang tuanya, “ Abah,.. Ibu, ita takkan melakukannya lagi... ita sayang Abah, sayang Ibu dan juga sayang Bibi. Ita minta ampun sudah mencorat-coret mobil abah!”, si Ibu dan Abahnya semakin menangis mendengar kata-kata ita tersebut.

“bah,, sekarang tolong kembalikan tangan ita, untuk apa diambil. Ita janji tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana kalau nanti ita mau main dengan teman-teman karena tangan ita sudah diambil. Abah... Ibu, tolong kembaliin, pinjam sebentar saja. Ita mau menyalami Abah dan Ibuk serta Bibi untuk minta maaf!”. (sekian)

++Half full, half empty++

0 komentar: