Copyright © Diary Lamunan Sore
Design by Dzignine
Minggu, 30 Agustus 2015

30 agustus 2015

Hai bintang,,,
Sejak mengenalmu, sejak saat itu pula aku bagai bom waktu yang meledak, koq bisa? Ya, setiap manusia punya rasa ingin diperhatiin, ingin memiliki, ingin menyayangi dan banyak keinginan yang lain. Aku salah satunya, bom waktuku berupa rasa ingin yang banyak itu, sudah lama. Saking lamanya kadang sampe lupa kalau aku punya rasa seperti itu.
Tapi, mau bagaimana lagi? Banyak temen-temenku yang sering kali mengusik rasa itu, hanya celoteh aneh yang kadang asal keluar dari mulut yang menganga itu.
Aku yang tak pernah mengerti rasanya di perhatiin. Gak pernah tahu rasanya ditanya udah makan belum? Atau yang lebih aneh lagi udah sikatan belum tadi pas mandi? Hhaha.
Hingga suatu hari aku tahu ada lesung pipi diwajah seorang wanita. Wah alangkah manisnya senyum wanita itu, pernah berharap aku sesekali dia senyum padaku. Tapi, ah aku siapa? Aku orang yang suka berandai-andai, paling suka berharap akan segala sesuatu. Seiring dewasanya waktu aku pun tahu, semua yang aku harapkan belum tentu menjadi kenyataan.
...
Hey, mimpi apa aku semalam? Dia membalas pesanku? Jangan2 bukan nomornya? Kemarin saja ketemu dia ketus banget. Sempat berfikir gak bakal dia akan menjawab satupun pertanyaanku.
...
Sore ini, langit mendung, tak ada satu bintang yang muncul. Aku sedih. Hati ini ikut mendung, bermuram durja seakan tak mau mendengarkan semua omongan yang ada disekelilingku. Padahal kemarin malam bulan purnama sedang indah-indahnya. Sore ini berbalik 180°, mendung, gelap, tak ada rembulan, apalagi bintang bersinar.
...

...aku tak mau tertawa, perut lapar ini pun tak mau berbuat apa.

0 komentar: