Copyright © Diary Lamunan Sore
Design by Dzignine
Minggu, 28 Februari 2016

28-2-2016

dongkol? senang? sedih?
dongkol sama sedih nya iya, senangnya nggak ada.
dipanggil abah untuk pertama kalinya sejak aku masuk di sini tahun lalu, sudah setahun lebih baru dipanggil. apalagi klo bukan karena masalah.
abah sendiri bilang, beliau sebagai orang tua merasa ada yang tidak beres sama aku. iya memang aku sedang ndak beres. pikiranku kacau. hanya bisa diam.
aku tak bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan abah kepadaku, lidahku kelu, seperti orang yang diinterogasi tanpa bisa menjawab sama sekali, seakan aku tak punya daya untuk mengungkapkan isi hati.
aku hanya bisa menggeleng dan mengangguk, mau berkata takut salah. aku memang penakut. padahal dalam benakku terfikir klo aku bisa mengucapkannya setidaknya beliau tahu masalahku. tapi apa? aku hanya terdiam kayak patung, cuma bisa menggeleng dan mengangguk, lagi dan lagi.
pertanyaan pertama yang beliau lontarkan, kamu pasti ada masalah ya? aku hanya bisa mengangguk.
kedua hatimu pasti sedang suntuk, coba klo pas begitu kamu makan aja rasanya pasti nggak enak? aku cuma mengangguk
pernah ditanya masa lalu, aku cuma menggeleng.
serba salah. bingung. eh tambah bingung dink. haha
kenapa pula aku begini? aku tahu aku salah, tapi??
kenapa? iya, aku sudah minta maaf, tapi entah kenapa aku merasa belum dimaafkan. maka dari itu aku masih saja merasa salah.
abah bilang, klo disini ya harus mengikuti aturan disini.
iya bah. cuma banyak peraturan yang nggak cocok dengan hati nurani ku. itulah kenapa aku selalu berontak. entah kenapa bisa terfikir seperti itu. apa niatku dulu salah? dulu sih waktu kesini aku berniat pengen banget bantu dengan sepenuh hati. aku pengen jadi contoh adik2ku. memiliki pemikiran yang luas tentang dunia ini. seiring berjalannya waktu, entah kenapa yang aku rasakan berbeda dari apa yang aku harapkan. aku merasa peraturan disini hanya mendidik adik2 ku ini hanya untuk patuh dan patuh. pokoknya harus taat sama atasan.
emang itu salah? ya tidak, itu benar, Tuhan juga bilang negara akan menjadi besar jika para warganya taat kepada pemimpinnya.
trus yang menurutmu salah dimana?
aku menganggap mereka tak pernah diberi kesempatan untuk berfikir. aku berpendapat setiap anak yang sudah beranjak dewasa pasti punya pemikiran yang baik. meski tidak semua. ada juga yang berfikirnya dicampur dengan nafsu. hanya mementingkan diri sendiri.
jadi untuk anak seusia mereka bukankah lebih baik dididik untuk patuh pada peraturan saja. biar semua aman sesuai peraturan?
aku masih tak setuju. aku ingin mereka berfikir bebas, tentu dengan batasan sesuai peraturan disini. meski mereka lugu, belum se dewasa kita pasti mereka ada niat baik juga untuk tetap disini. ada sesuatu yang mereka kejar. aku masih meyakini itu.
aahhhh membahas seperti ini memang tak ada habisnya. memuakkan, bikin tambah beban di hati. 'seneb' klo orang jawa bilang.

trus? apa aku akan tetap mengurung diri seperti saat ini? kamu yang sekarang tak berkawan?

biar, aku sudah terlanjur bingung. mau mendekat aku sungkan. hanya bisa menjauh dan menjauh. berharap bisa mengembalikan keadaan seperti semula. tapi aku masih egois, biar mereka yang memulainya. klo ini terjadi pasti ego ku akan meminta hal-hal lain. yang tentunya semua yang tak cocok dengan peraturan ini.
jika aku keluar? itu hal yang paling jahat yang dilakukan manusia di muka bumi ini. lebih jahat daripada adofl hitler membantai hampir semua kaum israel, cuma beliau memiliki motif. sementara aku? jika keluar aku juga belum tahu kemana, dan untuk yang ditinggalkan belum tentu bisa memaafkan perilaku ku ini. klo masalah pengganti sih, sudah banyak yang mampu menggantikan posisiku disini. aku bukan orang penting. bukan juga orang yang diunggulkan. pendapatku tak pernah diterima.

siaaaaalll. sebal.
Ya Tuhan, sejak awal aku hampir lupa akan hadir-Mu, apa iya aku sudah mendewakan ego ku sehingga aku lupa Kamu. Engkau yang membuat hati ini. aku minta Engkau pula yang menjaga nya. jauhkan dari ego. please. buat aku lebih dewasa.

buat abah, yang menganggap aku anakmu. jujur aku kesal ditanya begini. meski tak ada niatan membenci. tapi benciku juga muncul kepadamu. awalnya aku berharap engkau tak menanyakannya biar aku tak benci kepadamu tapi ya sudahlah. semoga aku menemukan hidup yang baik. amin

0 komentar: