Copyright © Diary Lamunan Sore
Design by Dzignine
Rabu, 15 Juni 2016

Lebih baik dinikmati

Kehidupan?
Dari mulai dalam kandungan berumur 40 hari sampai ajal berpisah dari kerongkongan manusia. Itulah yang dinamakan manusia hidup.
Manusia hidup sangatlah bermacam-macam. Ada yang laki-laki, ada yang perempuan, ada yang tua, ada yang muda, ada yang kaya dan ada yang hidupnya cukup. Allah sang maha pemberi tak mau jika dikatakan memiliki ciptaan yang miskin. Sehina-hinanya seseorang di mata manusia yang jika dilihat dari duniawi saja Allah tak pernah menganggap ciptaannya menjadi miskin. Allah pasti mencukupi segala kebutuhannya.
Tinggal bagaimana kita bersikap diri kepada Allah, bersikap untuk slalu bersyukur atas apa saja yang sudah diberikan Allah selama kita hidup. Atas rejeki, kesehatan, ilmu, pendidikan, dan lain-lain. Yang terpenting kita harus bersyukur karena Allah menciptakan kita. Tidak mudah, dari sekian ciptaan Allah yang diberikan nyawa, Allah sudah memilih kita untuk menjadi seorang yang dipercaya untuk menjadi kholifah di atas muka bumi ini. Masih tidak mau bersyukur? Allah masih mau memberi kesempatan sampai ajal menjemput. Maha Suci Allah atas segala belas kasihan-Nya.
Sebagai wujud rasa bersyukur Allah memberikan ritual yang bisa membuat seorang hamba untuk bisa ingat kepada-Nya. Tak lain dan tak bukan dengan cara beribadah. Ibadah bukan semata-mata beban yang harus dipikul oleh ummat pemeluk agama. Tapi merupakan jalan yang dibuat oleh Sang Kholik untuk hamba-hambaNya sebagai sarana untuk bersyukur kepada Allah. Tak banyak yang menyadari.
Harusnya saat kita beribadah kita bisa menikmatinya. Bukan hanya menggugurkannya. Klo cuma mengugurkannya berarti kita tak dapat apa-apa. Boleh diibaratkan orang bayar pajak kepada negara. Setiap tahun warga negara wajib membayar pajak untuk negara. Demi keberlangsungan perekonomian dan kestabilan sebuah negara. Pajak digunakan untuk membangun infrastruktur sarana dan prasarana apa saja. Entah itu jalan, subsidi bagi yang membutuhkan dan masih banyak hal lagi, semisal kita cuma membayar saja tanpa pernah memanfaatkan atau menikmatinya kan yang merasa dirugikan kita sendiri. Toh pajak dari, oleh, dan untuk warga masyarakat.
Ibadah tak jauh beda, hanya sedikit yang perlu diluruskan, bukannya Allah meminta kita untuk beribadah kepadaNya. Justru jika kita ingin bisa menikmati apa yang ada dalam kehidupan selama ini, Allah menyediakan fasilitas yang berupa ibadah. Semakin banyak atau semakin seorang hamba nikmat dalam menjalankan ibadahnya, maka semakin nikmat pula dia dalam menjalani kehidupannya.

*nb: untuk kalimat terakhir aku kesulitan menganalogikan perumpamaannya. Makanya rada kurang nyambung. Tapi semoga ada yang berbaik hati mengingatkan, apalagi mau memberi analogi yang lebih pas.
Referensi yang dibaca kurang banyak. Bila banyak kesalahan mohon dimaafkan.

0 komentar: